Setelah mengalami euforia kelulusan psikotes kemarin, kami mulai merencanakan langkah-langkah yang akan kami lakukan kedepan. Mulai dari rencana kapan pindahan, urusan khadimat, day care untuk anak-anak, sampai masalah rencana 'ngutang' untuk membeli aset tetap.
Semuanya sudah ada dalam bayangan kami-aku terutama-. Harapan yang sudah terpapar di depan pandang itu begitu indahnya sehingga aku seolah lupa, bahwa i'm just human. Aku bisa merencanakan semuanya sesuka hatiku. Tapi pada akhirnya, segala realita yg harus kuhadapi memang sudah tersurat dengan apik dalam skenario-Nya. Adalah Allah yang sekarang sedang mengingatkan aku akan ke-Maha Kuasa-anNya.
Suamiku, yang semenjak menikah denganku, hanya tinggal bersama selama kurang lebih sebelas bulan (8 bulan diawal pernikahan dan 3 bulan saat kelahiran si sulung), kini harus berkelana jauh. Meninggalkan kami yang hendak menyusulnya ke kampus itu. Sedih, tentu saja. Tapi inilah realita yang harus kami hadapi dan jalani.
Teringat saat ia menuliskan sesuatu di 'dinding' akunku di suatu social network, 'Maybe this is the way to make us stronger, Beib'. Yes, we will, honey.
Duhai kota khatulistiwa, sambut hangat ia, mujahid se(p)tia yang akan menjejak di tanahmu. Menunaikan amanah menyongsong cita mulia.
Duhai Rabb Yang Maha Menjaga, jaga ia selalu,agar tetap dalam jalan-Mu yang lurus. Ampuni kesalahan dan dosa kami. Dan, persatukan kami kembali dalam sebuah bait al jannah, di dunia dan di surga-Mu..
*mencintaimu selalu mujahid septiaku..
Cilegon-Bitung via tol Merak, di dalam bus RI yang melaju membawaku ke tanah kelahiran untuk bertemu dua buah hatiku, 10 Desember 2010.