Rabu, 29 Juni 2011

Hari Keluarga tanpa Keluarga

Hari ini 29 Juni 2011, dinyatakan sebagai Hari Keluarga. Banyak yang mempublikasikan kegiatan yang mereka lakukan dengan keluarga di hari yang bertepatan dengan libur nasional peringatan Isra Mi'raj ini. Wew, ada rasa sesak dalam hati ini. Aku iri dengan mereka. Aku iri dengan keluarga-keluarga lain itu. Aku iri. Mereka bisa membersamai anak-anak mereka, melakukan kegiatan yang menarik bersama-sama. Mempererat bonding dengan buah hati.

Sedangkan aku? Aku hanya sendiri di kontrakan kami ini. Kontrakan yang hanya sempat diisi selama kurang lebih dua pekan oleh keluarga lengkap kami. Ayah, Ibu, dan dua anak. Setelah itu, mulailah kami berpencaran kemana-mana. Ayah harus bertugas ke kota khatulistiwa. Disusul dua bulan kemudian anak-anak yang diasuh oleh mbah mereka di kampung. Dan, taraaa...tinggallah aku sendiri di sini. Begitupun dengan hari keluarga ini. Aku sendirian. Anak-anak di jogja. Si Ayah di pontianak. Indah bukan?

Harapanku sederhana. Aku hanya ingin kembali bersatu dengan keluargaku. Aku dan anak-anak ingin ikut kemanapun si Ayah bertugas. Tapi kapan ya keluarga ini akan kembali utuh?

Selasa, 29 Maret 2011

[LDL] lagi

Sudah hampir tiga bulan menjalani episode jauh dari suami. Sudah berlalu pula ujian tengah semester yang cukup menguji nyali. Dan liburan yang cuma dua pekan menyisakan pedih di hati. Kedua buah hatiku harus tinggal sementara bersama mbah mereka di kampung.

Well, selama tiga bulan, ehm, dua bulan lebih lah, menjalani rutinitas yang kadang sudah menguras emosi, pagi-pagi lagi. Tanpa khadimat, alias tidak ada yang bantu-bantu. Harus mengasuh dua anak kecil yang lucu tapi kadang gemesin itu. Kuliah di minggu terakhir sebelum ujian yang kian memadat. Dan juga tugas yang lumayan menumpuk-baik tugas kuliah, maupun tugas rumah alias kerjaan rumah-. Tapi alhamdulillah, dalam jangka waktu dua bulan lebih itu, suami bisa pulang lumayan sering. Sekitar 4 kali kalau tidak salah. Baik karena izin maupun tugas kantor.
Menjalani LDL kali ini, lebih sering nangis daripada dulu. Apalagi kalau sedang capek dan anak-anak rewel. ujung-ujungnya nangis dan marah-marah. Duh, maafkan bunda ya Nak. Kalian tau kan sebetulnya bunda sangat menyayangi kalian..
And now, here I am. Feel so lonely. nobody's around me. Hari-hari yang biasanya kuhabiskan bersama anak-anak, sekarang berubah garing. Sepi. Kangen sekali dengan mereka. Mas Zanky  dan Dek Zyra. Aku tau, mungkin ini lebih baik untuk mereka. Sementara tinggal di kampung dengan mbah, sampai kesehatan mereka pulih. Apa aku tidak khawatir meninggalkan mereka saat mereka sakit? Siapa bilang? Kuatir. Sangat. Tapi apa daya, kalaupun dipaksakan mereka disini, sementara aku harus nyambi kuliah, dan mereka dititipkan ke penitipan anak. Kasihan mereka. Lebih baik mereka sementara dengan tinggal dengan mbah, bapak n mak di kampung..
Kangen banget dengan kalian Nak..

Ya allah, Engkaulah Yang Maha Menjaga. Kutitipkan penjagaan buah hati hamba hanya pada-Mu Ya Rabb..


PondokKarya, 29 Maret 2011

Jumat, 10 Desember 2010

Man Propose God Dispose

Setelah mengalami euforia kelulusan psikotes kemarin, kami mulai merencanakan langkah-langkah yang akan kami lakukan kedepan. Mulai dari rencana kapan pindahan, urusan khadimat, day care untuk anak-anak, sampai masalah rencana 'ngutang' untuk membeli aset tetap.
Semuanya sudah ada dalam bayangan kami-aku terutama-. Harapan yang sudah terpapar di depan pandang itu begitu indahnya sehingga aku seolah lupa, bahwa i'm just human. Aku bisa merencanakan semuanya sesuka hatiku. Tapi pada akhirnya, segala realita yg harus kuhadapi memang sudah tersurat dengan apik dalam skenario-Nya. Adalah Allah yang sekarang sedang mengingatkan aku akan ke-Maha Kuasa-anNya.
Suamiku, yang semenjak menikah denganku, hanya tinggal bersama selama kurang lebih sebelas bulan (8 bulan diawal pernikahan dan 3 bulan saat kelahiran si sulung), kini harus berkelana jauh. Meninggalkan kami yang hendak menyusulnya ke kampus itu. Sedih, tentu saja. Tapi inilah realita yang harus kami hadapi dan jalani.
Teringat saat ia menuliskan sesuatu di 'dinding' akunku di suatu social network, 'Maybe this is the way to make us stronger, Beib'. Yes, we will, honey.

Duhai kota khatulistiwa, sambut hangat ia, mujahid se(p)tia yang akan menjejak di tanahmu. Menunaikan amanah menyongsong cita mulia.
Duhai Rabb Yang Maha Menjaga, jaga ia selalu,agar tetap dalam jalan-Mu yang lurus. Ampuni kesalahan dan dosa kami. Dan, persatukan kami kembali dalam sebuah bait al jannah, di dunia dan di surga-Mu..


*mencintaimu selalu mujahid septiaku..

Cilegon-Bitung via tol Merak, di dalam bus RI yang melaju membawaku ke tanah kelahiran untuk bertemu dua buah hatiku, 10 Desember 2010.

Jumat, 29 Oktober 2010

Bukan Karena Suku

Kutanam prasangka baik itu
Bahwa memang ini bukan karena suku
Bahwa memang ini hanyalah kealpaan sebagai pribadi

ataukah karena merasa jabatan tinggi?
hingga terlupa akan satu kata sakti
'terimakasih'

bukan karena ingin dipuji
tak lebih karena itu manusiawi
akan terasa senang di hati
jika insan senantiasa teringat kata sakti ini
'terimakasih'

duhai para 'petinggi'
kau tinggi karena ada kami
pegawai rendahan ini

*just say 'thankyou', 'terimakasih', 'makasih', 'thanks ya',..
itupun sudah membuat kami berseri
karena merasa dihargai

*menjelang pulang 16:54
29102010

[Euforia] Back To Campus

Subhanallahi..Walhamdulillah..Allahuakbar..!!

20102010 lalu merupakan hari yang sangat mendebarkan. Dari pagi sudah kehilangan mood untuk kerja. Ketenangan yang beberapa hari kemarin masih bisa 'diupayakan' ternyata benar-benar berada di titik nadir. Suami yang -menurut sebagian orang- berada di tempat yang 'dekat dengan sumber berita' pun tidak bisa banyak membantu. -menyebalkan malah, menurut saya-

Yup, hari itu, hari pengumuman kelulusan ujian psikotes yang akan menentukan langkah-langkah kami kedepan. Dan bagiku, pengumuman ini menentukan apakah aku akan tetap berada di kota ini bersama dengan kedua buah hatiku, ataukah kembali ke kampus membersamai suamiku yang tengah bekerja disana.

Hampir tengah hari hasil ujian itu keluar juga. Tanganku sampai gemetar saat memencet Ctrl+F dan kemudian mengetikkan namaku disana. Maha Suci Allah, Dia berkenan untuk mengabulkan do'a-do'aku..
Alhamdulillah, dalam pengumuman itu namaku tercantum sebagai salah satu peserta ujian yang lulus psikotes dan berhak kembali ke kampus untuk melaksanakan tugas belajar selama kurang lebih 2,5 tahun kedepan.

*mengenang kembali saat-saat mendebarkan itu
Kota Baja, 29 Oktober 2010
-disela2 deadline laporan BMN-

Selasa, 19 Oktober 2010

Ketenangan

Sebuah ketenangan itu memang tidak bisa dipaksakan ya..sekalipun berusaha untuk tenang, tetap saja ada yang ngganjel.
Ya Allah, kupasrahkan segalanya pada-Mu
Ikhtiar sudah kulakukan,
Hanya tawakal yang sekarang kuandalkan,


_menjelang 20102010_
*pengumumanhasilujianpsikotesd4

Jumat, 15 Oktober 2010

Malu Aku Malu

Sungguh, ingat pada kejadian yang telah lalu itu membuatku malu. Betapa banyak kekonyolan yang telah kulakukan. Mengumbar kejengkelan-kejengkelan kecil pada suami. de el el...Malu pokoknya. Lebih malu lagi pada Allah.
Astaghfirullah..





Semoga Allah mengampuni dosa-dosaku.. dan saatnya kini melangkah lagi. Dengan mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian lampau itu menjadi the new me..